Latar Belakang Lahirnya Merkantilisme

1. Merkantilisme lahir di Inggris dan prancis.

Lahirnya merkantilisme tidak terlepas dan bahkan sangat dipengaruhi oleh alam pikiran Renaissance yang oleh banyak ahli menandai dimulainya zaman modern. Zaman ini ditandai oleh kepercayaan akan kemampuan manusia, hasrat intelektual, serta penghargaan atas disiplin intelrktual. Oleh karena itu, gerakan kebangkitan kembali secara maksimal potensi manusia sangat ditekankan pada zaman ini, dan orang-orang yang memusatkan perhatian pada gerakan itu disebut kaum humanis, itulah buah dari revolusi kesadaran/revolusi berpikir sejak zaman Renaissance.

2. Cara pandang yang Radikal terhadap peran sentral manusia dalam sejarah dicirikan oleh satu hal penting yaitu “subjectivitas”.subjektivitas ini dimaksud bahwa manusia menyadari dirinya sebagai subjektum, yaitu sebagai pusat realitas yang menjadi ukuran segala sesuatu. Lewat modernisasi yang dimulai di Italia dizaman Renaissance manusia menyadari dirinya sebagai individu.

Pengakuan atas peran penting subjek berarti juga pengakuan terhadap kebebasan untuk berpikir, bertindak serta untuk mengembangkan diri. Pada abad pertengahan, zaman yang mendahului era Renaissance atau modern. Pengembangan potensi setiap individu nyaris tidak mendapat kerja. Hal ini disebabkan kuatnya otoritas gereja atau tradisi yang memandang kehidupan diakhirat lebih penting untuk dikejar daripada kehidupan didunia, hal ini diperkuat lagi oleh dominasi tuan-tuan tanah fendal atas rakyat jelata dominasi gereja, tuan-tuan tanah, serta tradisi yang begitu kuat membuat individu tidak mempunyai banyak ruang gerak/kebebasan untuk berpikir lain, apalagi mengubah kenyataan yang ada (status qou).

Sehingga pada kebebasan individu ini melahirkan transformasi yang besar dalam kehidupan politik, ekonomi, dan kebudayaan, orang-orang mulai memikirkan cara-cara baru untuk mengubah dunia. Fokus perhatian banyak orang sejak zaman Renaissance adalah bagaimana supaya manusia sejahtera hidup dibumi dan tidak menunggu diakhirat setiap manusia harus bebas memaksimalkan potensi terbaiknya. Namun agar kebebasan memaksimalkan potensi diri itu tidak bertabrakan dengan hak serta kepentingan orang lain, dibutuhkan negara, negara akan bertindak untuk memaksakan norma dan ketertiban demi keamanan semua warga negara.

Lahirnya negara-negara serta bersatunya beberapa wilayah kecil yang relatif otonom untuk membentuk negara baru yang lebih besar, tidak terlepas dari cara berpikir semacam ini. Tidaklah mengherankan jika kehidupan masyarakat kemudian mengalami transformasi yang luar biasa, tak terkecuali dalam bidang ekonomi khususnya perdagangan (exchange economy).

Dampak yang langsung terasa adalah munculnya Merchants (pedagang), bank, profesi akuntan, yang semuanya berorientasi keuntungan atau laba fungsi uang juga berubah, tidak lagi hanya sebagai alat tukar, tetapi menjadi komoditas yang diperjual belikan, seperti nyata dalam bentuk peminjaman uang untuk mendapatkan bunga(interest) dan bahkan riba(usury) alhasil, terjadi perubahan.

Pada masa sebelumnya, perdagangan internasional hanya di dominasi kota-kota di Italia seperti, Genoa, panesia, dan florance. Sejak masa Renaissance, berkembang banyak kota baru diseluruh Eropa, seperti Inggris dan prancis, yang mengandalkan perdagangan sebagai penggerak utama perekonomian.

Pada saat yang bersamaan, pertanian sebagai penopang utama perekonomian mulai digantikan oleh industri-industri manufaktur selanjutnya, semakin banyaknya industri manufaktur serta ramainya perdagangan internasional mendorong berkembangnya teknologi pelayanan. Disisi lain, Otoritas negara perlahan-lahan menggantikan Otoritas tradisional yang didominasi oleh Gereja dan tuan-tuan tanah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *